Nama Dea Tunggaesti, pengacara kelahiran Solo, 26 September 1982, melejit ke angkasa. Wajahnya mendadak sering muncul di layar televisi. Penampilannya ramai diperbincangkan di media sosial.
Maklum saja, selain kejelitaannya, mantan model dan bintang film ini sedang ditugasi bosnya, pengacara kawakan OC Kaligis, untuk mendampingi klien kakap yang sedang menggegerkan jagat politik Republik: mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, yang kini sedang dijerat berbagai kasus korupsi kakap.

Untuk mengenalnya lebih dekat, berikut saya tampilkan wartawan VIVAnews.com  secara khusus di Wisma Nusantara, Jakarta, Kamis malam, 25 Agustus 2011. Berikut petikan perbincangan dengannya, didampingi sang suami, Neviu Parodi, seorang warga negara Italia.

Anda sejak awal memang bercita-cita jadi pengacara?
Dulu saya pernah bercita-cita jadi pramugari. Ingin jadi sekretaris juga pernah. Tapi akhirnya saya benar-benar tertarik ingin jadi pengacara.

Karena pengaruh ibu Anda yang juga seorang pengacara?
Mungkin iya. Ayah saya wiraswasta, ibu saya seorang in house lawyer. Kebetulan orang tua saya bercerai. Saya tinggal dengan ibu saya dan adik. Jadi, tiap malam di perbincangan keluarga, ibu saya yang jadi penasehat kami. Dia memang sering bicara soal hukum.
Sekarang masih sering minta nasehat Ibu soal hukum?
Masih. Saya sering berkonsultasi dan dia banyak kasih masukan, karena baru pertama kali ini saya banyak bicara di media. Dia menasehati cara bicaranya harus begini, jangan bicara soal politik, bicara soal hukum saja. Dia wanti-wanti saya jangan mau digiring ke arah sana.
Punya kesibukan selain pengacara? 
Anak saya masih kecil. Yang satu 3 tahun, yang satu 1 tahun. Jadi, kegiatannya ya ajak anak-anak berenang, mereka lagi senang-senangnya berenang. Terus, mungkin ke mal yang ada tempat main untuk anak-anak. Saya juga senang sekali masak, juga menonton film serial, tentunya yang berbau hukum.
Anda juga masih kuliah, bukan?
Saya sedang kuliah S3 hukum lagi di Universitas Padjajaran. Kuliah sudah selesai, tinggal menulis thesis. Saya mengambil hukum pidana.

Kabarnya Anda pernah main film.

Ya, film layar lebar. Saya pernah main di “30 Hari Mencari Cinta”, jadi temannya si Luna itu. Juga, video klip Sheila on 7 “Pejantan Tangguh”, lalu Kahitna. Saya jadi artis waktu saya kuliah, ketika ada waktu senggang. Lebih banyak jadi model iklan, sih: softener So Klin. Wah, seneng banget waktu dapat job itu. Setelah itu, juga spaghetti La Fonte, Kacang Garuda, dan Softex.

Kenapa berhenti?
Saya menikah tahun 2004. Habis menikah saya di luar Jakarta, jadi agak malas juga. Selain itu, artis kan mengandalkan imajinasi. Saya kira saya tidak punya bakat untuk itu. Saya tidak bisa.
Bagaimana bisa bergabung dengan firma OC Kaligis?
Saya pertama ketemu Pak Kaligis pada tahun 2007. Saya datang ke Beliau dengan mengirim aplikasi, setelah lulus S2 di Program MM UGM di Gondangdia, Jakarta. Saya melihat Beliau seorang pengacara besar. Maka, saya memberanikan diri untuk datang. Saya mulai bekerja di kantor Pak OC sejak tahun 2007.

Kenapa melamar ke OC Kaligis?
Pak OC itu sebenarnya masih saudara jauh dengan suami saya. Jadi, mama suami saya itu masih sepupu jauh Manado sama Pak OC. Saya kenal Beliau sudah lama, sejak kuliah. Beliau sering mengajar sebagai dosen tamu. Tapi karena saya pacaran sama suami saya sekarang, akhirnya ketemu lagi.
Anda ditunjuk langsung oleh OC Kaligis untuk mendampingi Nazaruddin?
Ya, saya ditunjuk Pak OC. Beliau biasanya menunjuk beberapa orang untuk memegang satu perkara. Sebenarnya, saya sudah ditunjuk memegang kasus ini sejak Juni, sebelum kasus ini heboh. Sejak Juni 2011, Pak OC sudah punya kuasa dari Pak Nazar untuk menjadi pengacaranya. Di situ, Beliau mencantumkan beberapa nama supaya juga dimasukkan di surat kuasa. Di setiap kasus, sejak awal selalu Pak OC yang menunjuk sendiri siapa anggota timnya.

Anda punya kemampaun pidana lebih sehingga ditunjuk mendampingi Nazar?
Tidak, sih. Pak OC pasti kasih kesempatan ke setiap orang. Di kantor Pak OC ada 70 pengacara. Sebenarnya, tim Nazaruddin ada sembilan orang, empat pengacara senior. Mereka yang senior, termasuk Pak OC, hanya supervisi saja.
Kenapa Anda tidak memilih jalur perdata saja?
Dunia pidana terkenal lebih keras, jadi lebih menantang buat saya. Lebih fun. Di kantor saya, setiap pengacara dikasih kesempatan untuk mencoba semua. Saya pernah diminta bekerja di bagian pendapat hukum, dan itu bekerja di kantor saja. Saya merasa kurang fun. Saya lebih suka keluar kantor, ketemu banyak orang. Rasanya lebih cocok dengan jiwa saya. Kalau di kantor hanya ngetik-ngetik, saya bosan … hahaha.
Kenapa yang sering tampil di media hanya Anda dan Boy Afrian Bondjol?
Mungkin karena perkara ini diliput media secara luas, jadi Pak OC memberikan tugas khusus kepada Pak Boy dan saya untuk bicara.

Tugas ini sulit?
Saya tidak menyangka dikasih tugas ini. Saya tidak menyangka kasus ini akan menjadi besar, tiba-tiba menjadi begini. Saya harus bekerja ekstra, karena selain soal menyiapkan pembelaan dan paper work, saya juga harus meng-counter pendapat publik yang menyudutkan dan tidak sesuai dengan fakta. Sebagai kuasa hukum, saya harus memberikan keterangan ke media.

Keluarga mendukung Anda menangani kasus Nazaruddin?
Ya, pasti ada dukungan. Ada yang menasehati, ‘Hati-hati, kasus ini nuansa politiknya tinggi.’ Tapi, tidak sampai menentang. Tidak. Mereka memberi nasehat.
Setelah jadi terkenal, Anda mestinya sering disapa orang.
Ya, ada saja yang bertanya, ‘Mbak, Pak Nazar apa kabar?’ Saya bilang, ‘Baik, nanti saya sampaikan salamnya.’