Profil Lengkap Boyke Dian Nugraha ,  dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS  lahir di Bandung, 14 Desember 1956 adalah dokter dan seksolog Indonesia. Ia dikenal luas sebagai seorang seksolog dalam berbagai acara di televisi yang membahas masalah seks.

dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS  memiliki seorang istri bernama  dr. Hj. Ferry Lasemawati, SpRad dan memiliki 3 orang anak bernama Dhima Paramitha , Dhila Puspitha dan Dhitya Prasetya Dian Nugraha

Dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS., Ginekolog dan Konsultan Seks

Spesialis Membuat Pasutri Tambah Harmonis

Mendengar namanya saja, pasti akan mengingatkan Anda dengan seorang pria yang getol membicarakan segala hal tentang hubungan antara pasangan suami istri (pasutri) setiap kali tampil di berbagai acara. Sejak kecil Boyke memang sudah bercita-cita menjadi seorang dokter kandungan setelah ia menyaksikan sang bunda mengalami pendarahan saat hamil. Lalu, bagaimana perjalanan karir dan hidupnya hingga sekarang?

Bangunan dengan dominan warna putih itu terlihat penuh dengan kendaraan yang terparkir di depan halamannya. Tulisan Klinik Pasutri juga terlihat sangat jelas tepat berada di atas bangunan tersebut. Itulah klinik milik Dr Boyke, seorang konsultan seks dan hubungan pasangan suami istri yang cukup dikenal masyarakat luas. Meski Klinik Pasutri memiliki bangunan gedung yang tidak terlalu besar, jumlah pasien yang berdatangan sangatlah banyak. Terbukti, ketika menyambangi kliniknya tersebutuntuk bercengkerama dengan Dr Boyke, Realita harus mengantre bersama dengan pasien lainnya. Meski begitu, di sela-sela kesibukannya melayani pasien, Dr Boyke tetap masih dapat meluangkan waktu untuk bertemu dengan Realita.

 Rabu (16/5) sore itu pasien yang datang ke Klinik Pasutri memang cukup banyak. Alhasil, ruangan klinik menjadi ramai dengan banyaknya pasien yangtengah mengantre. Bahkan beberapa pasien tetap setia menunggu di salah satu tempat duduk yang disediakan tepat di depan ruangan Dr Boyke. Meski bukan sebagai pasien, tiba giliran Realita untuk masuk ke dalam ruangan Dr Boyke. Di ruangan yang tidak terlalu besar itulah, Dr Boyke bekerja untuk melayani pasien yang datang ke kliniknya. Tepat berada di samping mejanya, ada sebuah tempat tidur untuk pemeriksaan pasien. Beberapa perangkat pemeriksaan pasien seperti halnya di rumah sakit juga menghiasi ruangannya tersebut. Meski wajahnya menunjukkan kelelahan, Dr Boyke masih saja bersikap ramah menyambut kedatangan Realita. Ia kemudian mulai menuturkan perjalanan hidup dan karirnya hingga menjadi seorang dokter.

Cerdas dan Mudah Bergaul. Boyke terlahir dari pasangan Subagya Danusasmita dan Milly Ratna Numala. Sang ayah berprofesi sebagai tentara, sedangkan ibunya, selain menjadi ibu rumah tangga juga berprofesi sebagai seorang guru. “Saya dulu dididik sangat disiplin,” kenang Boyke. “Menurut saya, disiplin itu harus menjadi tolak ukur kesuksesan kita,” lanjutnya. Maklum, sebagai seorang tentara yang berdinas di Lemhanas, sang ayah memang kerap mengajarkan kedisiplinan di dalam keluarga. Sedangkan pendidikan agama dan kasih sayang didapatnya dari ibunda tercinta. Meski begitu, Boyke merasa sangat dekat dengan kedua orang tuanya tersebut. “Saya dekat dengan keduanya,” aku Boyke.

 Terlahir dengan nama Boyke Dian Nugraha, sosoknya ketika kecil dikenal sebagai anak yang mudah bergaul alias banyak teman. Tak heran, hingga saat ini Boyke memang dikenal luas oleh berbagai kalangan, baik kalangan masyarakat umum maupun kalangan selebritis. Boyke lahir pada 14 Desember 1956 di kota kembang, Bandung. Sebagai anak sulung, tentunya Boyke menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam membimbing keempat adik-adiknya. Kini adik-adiknyaberkarir di dunia yang berbeda dengan yang digeluti Boyke. “Ada yang menjadi ekonom, insinyur, psikolog, dan notaris,” aku Boyke. “Di keluarga saya memang dibebaskan untuk memilih, menjadi apa pun diperbolehkan,” imbuhnya.

 Sedari Taman Kanak-Kanak hingga bangku SMP, Boyke menjalaninya di Bandung. TK dan SD Priangan dan SMP Negeri II, Bandung sempat menjadi saksi bisu kepintaran Boyke dalam menangkap segala macam pelajaran yang diajarkan oleh para guru. Profesi sang ayah sebagai tentara membuat keluarga Boyke selalu berpindah-pindah tempat mengikuti tempat dinasnya, mulai dari Karang Tunggal, Tasik, Garut, Bandung, dan akhirnya pindah ke Jakarta. Boyke melanjutkan bangku SMP-nya di Jakarta dan masuk sebagai siswa SMP Negeri I Jakarta. Setamatnya di bangku SMP, Boyke kemudian melanjutkan ke SMA IV Jakarta. Selain mudah bergaul dengan teman-temannya, Boyke kecil juga dikenal sebagai anak yang cerdas. Hampir di setiap jenjang sekolah yang dilakoninya, ia selalu memegang peringkat atas di kelasnya.

 Kecerdasan Boyke kemudian berlanjut di bangku kuliah. Hebatnya, Boyke mampu diterima di tiga perguruan tinggi negeri ternama, di antaranya adalah Fakultas Kedokteran UI, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dan Teknologi Industri ITB. “Saya sempat belajar dulu selama beberapa bulan di ITB,” kenang Boyke. Meski sudah menjalani perkuliahan di ITB, Boyke langsung memutuskan untuk hijrah ke UI setelah mengetahui bahwa ia diterima di Fakultas Kedokteran UI. “Saya akhirnya memilih Kedokteran UI,” aku pria yang mengaku anti poligami ini. Pilihannya memang sangatlah tepat. Pasalnya, Boyke di waktu kecil memang sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter.

Mendirikan SMA. Setamatnya dari Fakultas Kedokteran UI, Boyke menjalani wajib kerja sarjana (sekarang PTT,red) di Puskesmas Palas, Lampung Selatan. Bercita-cita mengabdi bagi masyarakat ternyata tercapai sudah. Di Lampung, Boyke melakukan berbagai aktivitas yang bertujuan untuk kepentingan masyarakat luas. Ia sempat mendirikan SMA dan sekaligus menjadi kepala sekolah. Dengan banyak bergaul bersama anak-anak remaja, Boyke mendapatkan pelajaran berharga. Ia menjadi lebih banyak tahu mengenai problema remaja khususnya mengenai masalah seputar seks. Masalah-masalah tersebut akhirnya mendorong Boyke untuk mengambil spesialisasi di bidang kebidanan dan penyakit kandungan. Berkat aktivitasnya di daerah Lampung tersebut, Boyke mendapatkan anugerah sebagai Dokter Puskemas Teladan se-Propinsi Lampung pada tahun 1985.

 Boyke kemudian lulus sebagai dokter kandungan pada tahun 1990. Seperti halnya ketika lulus menjadi dokter umum, Boyke juga wajib menjalani wajib kerja sarjana II sebagai dokter spesialis. Ia memilih daerah terpencil , yakni di RSU Masamba, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Di daerah yang letaknnya berjarak 600 km dari kota Makassar itu, Boyke melayani kasus-kasus kandungan dan mengajari para calon bidan desa di SPK Palopo. Sejak saat itu, Boyke memutuskan untuk menjadi seorang dokter yang mengkhususkan di bidang seks dan kesehatan reproduksi.

 Setelah melaksanakan kewajibannya di daerah terpencil, Boyke pun kembali ke Jakarta. “Sekembalinya ke Jakarta, saya menjabat sebagai Kepala Humas Rumah Sakit Kanker Dharmais,” kenang Boyke. Pada tahun 1998, Boyke memiliki ide untuk mendirikan sebuah klinik yang biasa menangani masalah-masalah hubungan suami istri. “Terutama dikhususkan bagi mereka yang mengalami gangguan-gangguan keharmonisan,” tutur ayah tiga anak ini.

Boyke sendiri memiliki ketertarikan terhadap dunia reproduksi dan kandungan karena banyaknya orang yang kerap bertanya-tanya ke mana mereka harus mengadu, jika mereka mengalami masalah dalam hubungan suami istri. Lalu Boyke pun memutuskan untuk lebih banyak berkonsentrasi terhadap dunia reproduksi dan kandungan. Langkah pertamanya adalah dengan mengikuti berbagai seminar dan kongres singkat mengenai seks dan kesehatan reproduksi di beberapa Negara seperti Singapura dan Belanda. “Saya juga nggak menyangka,” aku Boyke.

Menurutnya pula, banyak pasangan suami istri yang membutuhkan pertolongan. Terwujudlah Klinik Pasutri, klinik pertama yang khusus menangani hubungan antar suami istri. “Tujuan didirikannya Klinik Pasutri adalah mengharmoniskan hubungan suami istri,” ujar penyuka lukisan ini. Dengan bekal pengetahuan seputar seksual dan kandungan, Boyke kerap dipercaya sebagai pembicara di berbagai seminar tentang kesehatan reproduksi.

 Dirikan Dua Perusahaan. Selain sibuk dengan berbagai kegiatan seminar, dan mengurusi Klinik Pasutri baik yang di Jakarta maupun di Bogor, Boyke juga sibuk mengurusi perusahaan yang didirikannya. Perusahaan yang diberi nama PT Cahyadi Mulia Nugraha (PT CMM) ini bergerak di bidang yang tidak jauh dengan bidang kesehatan reproduksi yang telah digelutinya. “Kita memproduksi WISH (singkatan dari Wanita Indonesia Sehat Harmonis, red), produk pembersih bagian vital wanita,” ujar Boyke. Tak hanya itu, Boyke juga memiliki perusahaan rekaman pribadi yang diberi nama DNB Records.

Perusahaan yang disebutkan terakhir ini merupakan perusahaan yang memang terkait dengan hobi menyanyinya. Jadi, jangan heran bila melihat acara televisi beberapa waktu lalu, Boyke sempat berduet dengan penyanyi profesional. Bahkan suaranya bisa dibilang cukup potensial untuk ukuran non-penyanyi profesional. Meski begitu, Boyke mengaku tidak berniat untuk menjadi seorang penyanyi walaupun ia telah memiliki perusahaan rekaman sendiri. Rencananya melalui perusahaan rekaman miliknya tersebut, Boyke akan memproduksi rekaman lagu-lagu instrumental untuk bayi-bayi yang masih berada dalam kandungan.

Ajarkan Seks pada Anak-Anaknya. Meski sibuk di berbagai kegiatan, Boyke tetaplah seorang suami dan kepala keluarga yang selalu menyempatkan waktu bersama keluarga. “Saya biasanya meluangkan waktu dengan keluarga setiap Sabtu dan Minggu,” aku pria berkacamata ini. Pernikahan dengan dr Ferry Lasemawati, SpRad pada tahun 1985, menghadirkan tiga buah hati, yakni Dhima Paramitha (21), Dila Puspitha (19) dan Dhitya Prasetya (12). Ketiganya menjadikan keluarga Boyke semakin bermakna. Dalam hal mendidik anak, Boyke memang mengajarkan pendidikan seks sejak dini. “Saya mengajarkan mereka pendidikan seks sejak kecil,” aku Boyke. Tak heran, ketiga anaknya tersebut selalu terbuka kepada Boyke. Mereka selalu menceritakan segala masalah yang mereka hadapi kepada Boyke dan istrinya.

Salah satu anaknya, yakni Dhima kini mengikuti jejak orang tuanya untuk menjadi seorang dokter. Padahal tak pernah ada paksaan dari Boyke kepada anak-anaknya agar mereka menjadi dokter. Sedangkan dua adik Dhima lebih tertarik ke dunia bisnis dan astronomi. Boyke mengaku bahwa ia selalu membebaskan keinginan ketiga anaknya. Biasanya setiap akhir pekan, Boyke selalu menemani anaknya untuk sekadar berbelanja di mal. “Bahkan saya yang memilih model baju dan warnanya untuk anak perempuan saya,” kenang Boyke sembari tersenyum lebar.

Selain masih dapat berkumpul bersama keluarga, Boyke juga masih menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya. “Saya suka menyanyi,” ungkap Boyke yang menganggap pekerjaannya adalah ibadah. Meski sempat bernyanyi untuk acara televisi, Boyke menolak bila nantinya ada perusahaan rekaman yang ingin mengajaknya membuat album rekaman. Alasannya, dia tidak mau merekam suaranya untuk dikomersilkan. Namun bila keuntungan dari album yang beredar nantinya akan digunakan untuk amal, maka Boyke tentu saja akan menyetujuinya.

Koleksi Lukisan. Selain hobi menyanyi, ia juga gemar mengoleksi berbagai lukisan. Tak heran, ketika Realita menyambangi kantornya, pajangan berupa lukisan terlihat terpampang di sepanjang dinding ruangan kerjanya. Tak hanya itu, Boyke juga memiliki kegemaran memelihara bunga anggrek, burung, dan ikan Koi di rumahnya. “Saya ingin punya kebun anggrek yang luas,” harap Boyke. Meski sudah menginjak usia yang cukup tua, Boyke juga masih terlihat sehat dan kuat. Ia juga enggan pensiun dari berbagai macam kegiatannya sekarang. Ia bertekad untuk terus menekuni dunia kesehatan reproduksi dan kandungan yang sudah terlanjur dicintainya selain keluarga. Fajar

Ingin Menjadi Dokter Setelah Melihat Ibundanya Mengalami Pendarahan

Keinginan menjadi seorang dokter bukanlah keinginan yang tiba-tiba muncul tanpa alasan yang jelas. Namun Boyke kecil memiliki alasan tersendiri dalam memilih jalur menjadi dokter. Pengalaman di masa kecilnya membuat Boyke memutuskan cita-cita sebagai seorang dokter. Pengalaman itu termasuk pengalaman pahit yang cukup menyedihkan.

“Waktu itu saya sempat melihat ibu saya mengalami pendarahan ketika hamil,” kenang Boyke. Kala itu, Boyke masih berumur 7 tahun. Ia bersama kedua adiknya melihat kondisi yang dialami oleh ibunda tercintanya. Milly Ratna Numala, sang ibunda mengalami pendarahan ketika tengah mengandung anak keempatnya. Ia mengalami pendarahan di atas tempat tidur. Ketika itulah, Boyke melihat darah yang membasahi sprei tempat tidur ibundanya. Pembantu yang mengurus di rumahnya tiba-tiba pingsan pada saat melihat kondisi ibunda Boyke.

Pada saat kejadian, sang ayah sedang tidak berada di rumah. Boyke pun memutuskan untuk meminta pertolongan kepada tetangga di sebelah rumahnya. “Saya membangunkan tetangga dengan meloncati pagar dan berteriak-teriak,” kenang Boyke. Atas bantuan tetangganya, sang ibu langsung dibawa ke rumah sakit Boromeus. “Kemudian ibu saya dilakukan kuret, barulah ibu saya dapat tertolong,” tutur Boyke sembari mengenang kejadian tersebut. Sejak kejadian itu, Boyke menganggap bahwa menjadi seorang dokter ternyata mampu menghidupkan orang. “Kejadian itulah yang memacu saya untuk menjadi dokter,” aku Boyke. Keinginan Boyke menjadi seorang dokter tak hanya didorong setelah melihat kondisi sang ibu yang mengalami pendarahan dan keguguran. Akan tetapi berkat adanya serial televisi yang bertajuk ‘Dr. Kildare’. “Dr Kildare itu bisa menangani berbagai macam kasus meski dia seorang dokter umum,” ungkap Boyke. Kemampuan seorang Dr Kildare membuat Boyke semakin menginginkan cita-cita sebagai dokter. Keinginan Boyke untuk menjadi dokter juga didukung oleh kedua orang tuanya. Tak heran ketika ia menginjak bangku SD, SMP, ataupun SMA, setiapkali ditanya orang ingin menjadi apa, maka Boyke dengan yakinnya akan selalu menjawab menjadi seorang dokter. Fajar

Pernah Menangani Pasangan Muda yang Tak Tahu Bagaimana Berhubungan Intim

Ada satu pengalaman menarik yang tak mudah untuk dilupakan oleh Boyke selama melayani pasien-pasiennya. Kala itu, Boyke tengah bertugas di puskesmas di daerah Palas, Lampung Selatan. Ia melayani begitu banyak pasien yang mengalami masalah dalam hubungan suami istrinya. Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika ia melayani pasangan muda usia yang mengaku memiliki masalah dalam pernikahan yang mereka jalani. Masalahnya adalah, selama tiga tahun mereka menikah, mereka tak juga diberikan momongan.

Pasangan tersebut memang tergolong masih sangat muda. Sang suami masih berumur 17 tahun, sedangkan si istri masih berumur 14 tahun. “Kok kita belum dapat momongan ya dok,” ujar Boyke sembari menirukan perkataan pasangan muda tersebut. Lalu, Boyke pun menanyakan kepada mereka bagaimana mereka melakukan hubungan suami istri. Pasangan suami istri itu kemudian menjawab bahwa mereka telah berusaha dengan maksimal agar dapat memperoleh anak. Tak disangka, setelah Boyke mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan ternyata salah besar. “Mereka ternyata melakukannya dengan salah,” ungkap Boyke yang kala itu hanya dibayar Rp 27.200 sebagai dokter puskesmas. “Mereka hanya tahu hubungan itu dilakukan melalui lubang pusar,” lanjut Boyke sembari tertawa riang.

Kejadian itu hingga saat ini tak akan mudah untuk dilupakan oleh Boyke. Pasalnya, pasangan muda itu ternyata memang tidak mengetahui sama sekali bagaimana melakukan hubungan suami istri dengan benar. Setelah beberapa lama kemudian, pasangan muda itu kembali lagi kepada Boyke sekaligus berterima kasih kepadanya. Karena si perempuan akhirnya berhasil hamil. Mereka menganggap bahwa berkat saran dari Boyke, mereka berhasil mendapatkan momongan yang telah diimpikan sebelumnya. Fajar

Tips Menjaga Hubungan Suami Istri Tetap Awet

Ada beberapa tips dasar dari Dr Boyke agar pasangan suami istri dapat mempertahankan hubungannya, sehingga pada akhirnya akan melanggengkan hubungan pasangan suami istri tersebut. Di antaranya adalah :

  1. Terimalah kekurangan dan kelebihan dari pasangan. Jangan pernah membanding-bandingkan pasangan kita dengan orang lain. Setelah memasuki lembaga pernikahan seorang suami atau istri harus dapat menerima kekurangan dari pasangannya.

  2. Jalinlah komunikasi dengan baik. Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting agar setiap kemauan dari pasangan akan dapat diketahui langsung oleh suami atau istrinya.

  3. Berikanlah perhatian kepada pasangan Anda. Meski perhatian itu tidaklah besar, tapi sangatlah bermakna bagi kelangsungan hubungan yang Anda jalani. Perhatian dapat diungkapkan pada saat merayakan hari ulang tahun pernikahan Anda, atau bahkan dengan melakukan bulan madu kedua.

  4. Berpeganganlah kepada komitmen yang telah dibuat. Janganlah pernah untuk menyakiti pasangan Anda, karena tentu saja itu akan menyalahi komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

  5. Mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Harus diingat bahwa kebahagiaan tidak diukur dengan uang. Seorang yang kaya raya belum tentu menandakan ia merasa bahagia. Fajar

Biodata Profil Lengkap Boyke Dian Nugraha :

 Nama Lengkap : Dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG, Mars.

Tempat/tanggal lahir : Bandung/14 Desember 1956

Nama istri : Dr. Hj. Ferry Lasemawati, SpRad.

Pendidikan

  1. Dokter Umum, FK UI tahun 1981

  2. Dokter Spesialis Obs-Gyn, FK UI tahun 1990

  3. Magister Administrasi Rumah Sakit, Fakultas Pasca Sarjana UI tahun 1996

  4. Kursus dan Seminar tentang Sex and Reproductive Health, antara lain :

    • Belanda (1988), Singapura (1989), Australia (1996)

    • Hongkong (1999), Jepang (2000), Washington, AS (2001), Paris (2002), Spanyol (2003), Praha (2004), Korea (2005), Malaysia (2006).

Karir

  1. 1982 : Dokter pada RSU Abdoel Moeloek, Lampung

  2. 1982-1985 : Kepala Puskesmas Kecamatan Palas, Lampung Selatan

  3. 1986-1990 : Pendidikan spesialis kebidanan dan kandungan

  4. 1991-1993 : Kepala UPF Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSU Masamba, Luwu, Sulawesi Selatan

  5. 1992-1993 : Staf Pengajar Pendidikan Bidan Desa SPK Palopo, Sulawesi Selatan

  6. 1993-1995 : Kepala Humas RS Kanker Dharmais, Jakarta

  7. 1996-1999 : Kepala Seksi Diklat II, RS Kanker Dharmais, Jakarta

  8. 1999 : Kepala Bidang Diklat RS Kanker Dharmais, Jakarta

  9. 2000-sekarang : Direktur Utama Klinik Pasutri dan Boyke & Co

  10. 2000 : Pengajar tamu di FKUI, PTIK, Seskoad, Lemhanas

Kegiatan lainnya

  1. Pengasuh acara Seks, Problema dan Solusinya-Radio Trijaya FM

  2. Pengasuh rubrik Seks dan Kesehatan Reproduksi : Majalah Mahkota, Majalah Aneka Yess, dan Majalah Good Housekeeping

  3. Pengisi acara di TVRI, dan di berbagai TV swasta

  4. Pemrakarsa formula ‘Wish’ Natural Skin Care

Penghargaan

    • Dokter Puskesmas teladan se propinsi Lampung, tahun 1985

    • Tokoh Indonesiaku dalam visi mampu bekerja dan berkarya, tahun 2005

Buku-buku

  1. Misteri Seputar Organ Intim, 1992

  2. Rahasia Pasien Misteri Dokter, 1994

  3. Problema Seks dan Organ Intim, 1994

  4. Problema Seks dan Cinta Remaja, 1995

  5. Apa yang ingin Diketahui Remaja Tentang Seks, 1997